PENGAUDITAN LAPORAN KEUANGAN DI ERA TEKNOLOGI

Published June 27, 2012 by e1lmiah

Ranto P. Sihombing 1

 

The usage of internet technology in reporting financial statement has changed the audit process since it force auditors to work with electronic evidence. The purpose of this paper is exploring the usage of internet technology in reporting financial statement and its impact in changing traditional audit techniques.

 

Keyword: Technology; Financial Statement; Audit Technique; Electronic Evidence

 

 

Pendahuluan

Perubahan yang sangat cepat di bidang teknologi telah mempengaruhi kehidupan manusia.  Salah satunya adalah internet, yaitu jaringan komputer yang tidak mempunyai pusat pengendalian atau organisasi, yang dapat digunakan untuk komunikasi, kebutuhan penelitian dan juga jual beli barang dan jasa (Elaine, 2000). Jones dan Xiao (2003) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa di bidang akuntansi, internet berpotensi dalam mempercepat penyampaian informasi laporan keuangan sehingga stakeholder dapat mengakses dengan cepat.

Penggunaan teknologi internet serta komputer organisatoris yang senantiasa berkembang telah menuntut auditor untuk memperoleh bukti secara elektronis pula. Hal ini mendorong profesi tersebut untuk menyertakan konsep bukti elektronis ke dalam standar profesionalnya. Berkaitan dengan hal ini, Lembaga Akuntan Publik Amerika (AICPA) telah mengeluarkan Statement on Auditing Standard (SAS) No.80, amandemen SAS No. 31, tentang masalah bukti (Evidential Matter).

 

 

 

______________________________________

1 Penulis adalah staf pengajar Fakultas Ekonomi/Akuntansi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

SAS No.80 memberikan guidance (pedoman) bagi auditor dalam melakukan audit laporan keuangan. Hal ini disebabkan semakin banyaknya perusahaan menggunakan teknologi internet untuk memproses transaksi (Halim, 2004). Pada saat bukti menjadi lebih bersifat elektronik, maka hal ini akan menyebabkan dihasilkannya audit trail yang lebih sedikit. Oleh karena itu, auditor harus mengubah teknik audit mereka. SAS No.80 menyatakan bahwa ketika bukti yang ada disajikan dalam bentuk elektronik, maka auditor perlu mempertimbangkan penggunaan teknik continuous auditing.

Dalam makalah ini, penulis ingin memaparkan beberapa hal mengenai proses pengauditan yang perlu dipahami auditor, sehubungan dengan perkembangan teknologi yang berdampak pada operasi bisnis klien. Secara berurutan akan dibahas mengenai penyampaian informasi melalui internet, manfaat pelaporan keuangan pada internet, format pelaporan keuangan internet, bukti audit, continuous auditing, pengendalian internal.

 

Penyampaian Informasi Melalui Internet

Informasi bukan hanya sekedar kumpulan data tetapi lebih merupakan suatu bentuk kecerdasan (Wilkinson, 2000). Informasi yang cerdas adalah informasi yang bermanfaat bagi penerima informasi. Manfaat informasi yang paling utama adalah untuk mengurangi ketidakpastian dalam pengambilan keputusan (Wilkinson, 2000).

Menurut Halim (2004), kualitas suatu informasi tergantung dari atribut informasi tersebut, yaitu akurat (accuracy), tepat waktu (timeliness), dan relevan (relevancy). Akurat berarti informasi bebas dari kesalahan dan tidak bias. Tepat waktu berarti informasi sampai kepada penerima dalam jangka waktu yang dibutuhkan. Sedangkan relevan berarti informasi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Salah satu cara agar informasi yang disampaikan tepat waktu maka dapat disampaikan dengan menggunakan internet (Halim, 2004).

Penelitian yang dilakukan oleh Cheng, Lawrence dan Coy (2000) dalam Howard Davey dan Kanya Homkajohn (2004) menyatakan bahwa 32 (80%) perusahaan dari 40 perusahaan yang ada di Thailand sudah mempunyai web sites dan 70 % sudah menyampaikan laporan keuangannya pada web sites. Penelitian lain yang dilakukan di Inggris yang melakukan survey top 100 Fortune Global pada 500 perusahaan menunjukkan  bahwa 89 % sudah mempunyai web sites (Flynn dan Gowthorpe, 1997 dalam Craven,1999).

Penelitian yang dilakukan oleh Jones dan Xiao (2003) menduga bahwa internet akan mempercepat penyampaian informasi non-finansial pada waktu mendatang seperti informasi lingkungan, informasi sosial dan juga perusahaan pemerintahan bahkan informasi kualitatif. Bahkan pada tahun 2010, diduga bahwa pelaporan keuangan dengan menggunakan internet akan lebih tepat waktu dan menjadi real time reporting (Jones dan Xiao, 2003).

 

Manfaat Pelaporan Keuangan Pada Internet

Internet disebut sebagai suatu sistem komunikasi (Xiao dan Jones, 2000). Sebagai suatu sistem komunikasi, hal tersebut terutama mempengaruhi aspek komunikasi pelaporan keuangan seperti akses, penyebaran, interaksi, dan penyajian. Internet mendorong komunikasi one-way, two-way dan multi-way serta memberikan pengembangan terhadap interaktif aplikasi yang tinggi. Hal ini menawarkan interaksi pemakai dengan penyedia informasi perusahaan. Internet juga bersifat real-time sehingga mempercepat penyampaian informasi keuangan. Selain itu internet dapat diakses di manapun di seluruh dunia, sehingga data elektronik dapat dengan mudah dibawa kemana-mana dan dapat diakses secara menyeluruh (Xiao dan Jones, 2000).

Hasil penelitian Jones dan Xiao (2003) menyatakan bahwa perusahaan akan meningkatkan penggunaan internet, yang memberikan produk yang up-to-date dan informasi jasa dan catatan secara elektronik. Bahkan para ahli memprediksi bahwa penggunaan internet akan memampukan perusahaan untuk menghubungkan informasi keuangan kepada perusahaan yang lain sehingga mendorong pemakai untuk menggunakan web-based financial information (Jones dan Xiao, 2003).

 

Format Pelaporan Keuagan Internet

Teknologi telah mengubah cara organisasi dalam menjalankan bisnis dan menerbitkan laporan keuangan (Halim, 2004). Sebagian besar perusahaan menyajikan laporan keuangan di internet dengan menggunakan format HTML (Rezaee dan Hoffman, 2001). Format HTML efektif dalam menyampaikan informasi dasar yang terkait dengan pengungkapan finansial. Namun format HTML tidak memungkinkan pencarian, analisis, dan manipulasi informasi tanpa down loading dan transfer kedalam spreadsheet atau aplikasi software. Saat ini standard tekhnologi penyajian laporan keuangan di internet telah berkembang dari Extensible Markup Language (XML) menjadi Extensible Business Markup Language (XBRL).

Salah satu manfaat fitur XBRL adalah memungkinkan organisasi untuk menyiapkan seperangkat laporan keuangan dalam sebuah format yang dapat dilihat dan digunakan dengan berbagai aplikasi. Hal ini mengeliminasi kebutuhan untuk menyiapkan laporan keuangan dalam format yang berbeda, sehingga mengurangi waktu, menghemat biaya, dan mengurangi kemungkinan kekeliruan dalam dokumen yang berbeda. Pengguna laporan keuangan dapat dengan mudah membaca seluruh laporan keuangan dengan men-download XBRL atau dari web site (Jones dan Xiao, 2003).

AICPA telah bekerja dengan organisasi internasional dan nasional dalam beberapa tahun untuk mengembangkan spesifikasi XBRL. XBRL pertama digunakan untuk laporan keuangan untuk perusahaan komersial dan industri yang disusun berdasarkan GAAP Amerika Serikat yang dikeluarkan pada 31 Juli 2000. Pada format XBRL, informasi keuangan hanya dimasukkan satu kali, dan kemudian diubah dalam berbagai bentuk, seperti dokumen HTML untuk web site organisasi, EDGAR filling document untuk tujuan umum (seperti SEC), dan format pelaporan khusus lainnya seperti untuk tujuan pajak atau laporan kredit. Dengan merancang bahasa standar untuk perusahaan, organisasi, auditor, dan pengguna pelaporan keuangan. Selain itu format XBRL akan meningkatkan ketersediaan, reliabilitas dan relevansi pelaporan keuangan (Halim, 2004). Manfaat lain dari format XBRL adalah mempermudah pencarian pelaporan keuangan dibandingkan dengan format HTML, penemuan informasi yang cepat dapat menghemat waktu dan proses pengauditan pelaporan keuangan terstandarisasi secara on-line sehingga akan lebih efisien dan efektif (Rezaee dan Hoffman, 2001).

 

Bukti Audit

Tujuan audit laporan keuangan adalah untuk memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan klien. Untuk mendasari pemberian pendapat tersebut, auditor harus memperoleh dan mengevaluasi bukti-bukti yang mendukung laporan keuangan (Halim, 2001). Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan agar bukti yang diperoleh dapat mendukung auditor dalam memberikan pendapat terhadap laporan keuangan yang diaudit (Halim, 2001) antara lain:

  1. Bukti apa yang diperlukan untuk setiap asersi.
  2. Prosedur audit apa yang digunakan untuk mengumpulkan bukti yang persuasif dan kompeten.
  3. Seberapa banyak bukti dikatakan mencukupi.
  4. Alat apa yang paling efisien dan dapat dipercaya untuk mengumpulkan bukti yang kompeten dan cukup.

SAS No.80 memberikan panduan bagi auditor untuk mengaudit transaksi dalam bentuk format elektronik. SAS No.80 mensyaratkan agar klien auditor dapat mengirimkan, memproses, menyimpan atau mengakses sejumlah informasi elektronik yang signifikan. Hal ini diperlukan untuk menguji kecukupan pengendaliannya secara normal.

AICPA mendefinisikan bukti elektronik sebagai pemindahan informasi, pemrosesan, penyimpanan atau akses yang dilakukan dengan alat elektronik yang dapat digunakan oleh auditor untuk mengevaluasi asersi laporan keuangan. Tabel 1 berikut ini membandingkan dan membedakan bukti tradisional dan elektronik dalam konteks beberapa atribut yang diperlukan oleh bukti audit.

 

Tabel 1

Perbandingan antara bukti tradisional dan bukti elektronik

 

Atribut

Bukti Tradisional

Bukti Elektronik

Kesulitan untuk Diubah

Sulit diubah dan dimungkinkan untuk mendeteksi perubahan dalam pekerjaan audit normal

Lebih mudah untuk dilakukan perubahan dan lebih sulit dideteksi. Oleh karena itu, efektifitas internal control memainkan peranan yang penting dalam mendeteksi perubahan tertentu dalam bukti elektronik

Kekuatan Kredibilitas

Paper document mempunyai tingkat kredibilitas yang tinggi

Kredibilitas bukti elektronis tergantung efektifitas struktur pengendalian internal

Kelengkapan Dokumen

Paper evidence memasukkan semua persyaratan transaksi  penting

Pemrosesan elektronik dapat menyembunyikan bukti-bukti dengan kode atau dengan cross reference ke data fields lainnya

Bukti Pengesahan

Pengesahan pada paper evidence sangat jelas ditampilkan pada dokumen asli

Pengensahan bukti elektronik mungkin tidak jelas dan dapat dilakukan dengan menekan salah satu tombol pada keyboard

Kemudahan untuk Digunakan

Paper evidence tidak memerlukan alat khusus untuk digunakan dalam mengevaluasi dan memahami bukti

Bukti elektronik membutuhkan pengetahuan tentang teknik data extraction untuk mengevaluasi dan memahami bukti

Kejelasan

Paper evidence biasanya jelas dan akan menghasilkan kesimpulan yang sama apabila digunakan oleh pembaca yang berbeda

Bukti elektronik tidak jelas dan dapat ngakibatkan kesimpulan yang berbeda oleh beberapa auditor tergantung pada prosedur yang digunakan dan pengendalian yang diimplementasikan.

Sumber: Halim, 2004

 

 

Continuous Auditing (CA)

Perubahan proses bisnis telah menggeser sumber informasi yang bersifat tradisional menjadi elektronik. Hal ini memerlukan penciptaan prosedur audit baru untuk melakukan audit. Tujuan pokok audit keuangan dan standar pengauditan yang berlaku umum tidak berubah karena semua atau sebagian dari arsip klien dalam format elektronik. Namun demikian, prosedur audit dapat berubah ketika sebagaian besar informasi yang ada hanya dalam format elektronik sehingga menuntut auditor independen untuk menggunakan Continuous Auditing (CA) (Halim, 2004). Menurut Rezaee (2001), CA adalah proses sistematis untuk mengumpulkan dan mengevaluasi bukti audit elektronik sebagai dasar yang rasional untuk menarik suatu pendapat atas kewajaran penyajian laporan keuangan berdasarkan sistem akuntansi yang paperless dan real-time. CA terdiri dari lima tahap yaitu:

  1. Perencanaan penugasan audit yang meliputi prosedur analitis.
  2. 2.       Menilai struktur pengendalian intern sistem real time accounting (RTA) yang mencakup hasil test of control dan penilaian atas control risk.
  3. Pelaksanaan substantive test internal dan terus menerus atas transaksi yang detail.
  4. Menyelenggarakan substantive test atas saldo akhir tahun dan hasil menyeluruh termasuk prosedur analitis.
  5. Menyelesaikan audit dan menerbitkan laporan audit.

Manfaat utama dalam pemanfaatan CA adalah pengurangan biaya dalam menyelenggarakan suatu penugasan audit. CA memungkinkan auditor untuk menguji sampel yang lebih besar (bahkan sampai 100 persen) terhadap data dan transaksi klien dengan lebih cepat dan lebih efisien dibandingkan dengan pengujian manual. Selain itu CA dapat mengurangi biaya-biaya auditor dan jumlah waktu yang biasanya dihabiskan untuk pengujian manual atas transaksi dan saldo. CA juga dapat meningkatkan kualitas audit keuangan sehingga memungkinkan auditor untuk lebih memusatkan perhatian pada pemahaman struktur industri dan bisnis klien dan struktur pengendalian internnya (Halim, 2004).

Tabel 2 menampilkan suatu ikhtisar siklus akuntansi berdasarkan sistem real-time accounting (RTA) dan proses audit yang terkait berdasarkan CA. Tabel 2 menunjukkan bahwa sistem RTA tersebut terdiri dari proses sebagai berikut:

  1. Identifikasi transaksi dan peristiwa ekonomi.
  2. Pengukuran, pengakuan, dan pelaporan transaksi berdasarkan sistem akuntansi yang real- timedan on-line.
  3. Adanya struktur pengendalian intern yang memadai dan efektif.
  4. Pengolahan transaksi secara elektronik.
  5. Saldo rekening general ledger dan subsidiary account  yang on-line.
  6. 6.       Pembuatan laporan keuangan real-time dan on-line.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2

Skema untuk Siklus Akuntansi berdasarkan Sistem RTA dan Aktivitas Audit

Periode Waktu

Klien: Sistem Akuntansi real-time

Auditor: Metode Continuous Auditing

Aktivitas Audit

Transaksi dan peristiwa ekonomi

Perencanaan audit

Memperoleh informasi mengenai industri dan bisnis klien, memperbaharui pengetahuan dan pemahaman struktur pengendalian intern termasuk aktivitas dan lingkungan pengendalian, merancang strategi audit termasuk model resiko audit dan program awal audit

Periode tahunan laporan keuangan

Sistem informasi akuntansi on-line dan real-time

Struktur Pengendalian Internal

Pertimbangan terhadap struktur pengendalian internal

Memahami dan evaluasi struktur pengendalian internal, melakukan uji pengendalian elektronik, memodifikasi program audit

Memrosesan transaksi secara elektronik

Pengujian substantif detail transaksi

Memilih teknik dan alat audit elektronik yang sesuai, melakukan prosedur audit, memastikan bahwa bukti yang diperoleh cukup dan kompeten

General ledger dan subsidiary ledger secara on-line

Pengujian substantif dan prosedur analitis

Memperoleh bukti audit yang cukup dan kompeten, mengevaluasi ketepatan dan reliabilitas bukti audit, memonitor pendekatan audit

Laporan keuangan yang on-line  dan real-time

Menyelesaikan audit dan menerbitkan

laporan audit

Menerbitkan laporan audit, memutuskan untuk menerima atau melanjutkan penugasan audit

Sumber: Rezaee, 2001

Pengendalian Internal

Pertimbangan struktur pengendalian internal RTA melibatkan pengujian dan penilaian pengendalian manajemen dan sistem aplikasi. Auditor mempelajari dan mengevaluasi lingkungan pengendalian tersebut dan komponen penilaian resiko struktur pengendalian internal dengan menguji pengendalian manajemen, seperti audit committee, filosofi manajemen dan gaya operasi, pengelolaan risiko. Auditor mempelajari dan mengevaluasi aktivitas kendali spesifik dengan pengujian sistem pengendalian manajemen dan pengendalian sistem aplikasi, yaitu input, proses, output dan pengendalian manajerial. AICPA (1996) menyatakan bahwa hal-hal yang berhubungan dengan bukti tentang efektivitas desain atau operasi struktur pengendalian internal dapat diperoleh melalui penggunaan teknik-teknik audit berbantuan komputer.

Teknik audit berbantuan komputer yang paling umum digunakan dalam menguji efektivitas struktur pengendalian intern di antaranya adalah (Rezaee, 2001):

  1. Test data atau integrated test facilities yang digunakan dalam menentukan apakah sistem RTA memporses transaksi dengan valid atau invalid serta memverifikasi kebenaran dan kelengkapan pemrosesannya.
  2. Parallel simulation adalah suatu teknik yang mengembangkan suatu program komputer yang mereplikasi beberapa bagian dari sistem aplikasi klien untuk menilai efektivitas suatu aktivitas pengendalian.
  3. Pemrosesan secara simultan (concurrent processing) digunakan dalam merancang modul audit dan kode pemrograman dan menerapkannya secara langsung ke dalam aplikasi komputer untuk secara terus-menerus memilih dan memonitor pemrosesan data.
  4. Simulasi yang terputus-putus dan berkelanjutan (Continuous and Intermittent Simulation) yang digunakan untuk memilih transaksi selama pemrosesan untuk review audit dan memberikan kapabilitas auditing on-line.

Simpulan

Perubahan teknologi yang begitu cepat mengakibatkan perubahan praktik bisnis dan cara pemrosesan pencatatan dan penyimpanan transaksi bisnis oleh sebagian besar organisasi. Demikian pula dengan cara penyampaian laporan keuangan, yaitu dengan menggunakan teknologi internet, sehingga informasi yang dihasilkan bersifat real-time.

Teknologi juga membawa perubahan terhadap teknik pengauditan yang disebut continuous auditing (CA). Hal ini disebabkan oleh bukti yang dihasilkan dari transaksi yang bersifat on-line bersifat elektronik. Penggunaan CA memungkinkan auditor untuk melakukan verifikasi terhadap bukti-bukti yang dihasilkan untuk mendukung opini yang akan dikeluarkan oleh auditor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) (1994) Improving Business Reporting – A Customer Focus. New York: Report of the AICPA Spesial Committee on Financial Reporting

 

­­­­­­­­________(1996). Amendement to Statement on Auditing Standards No. 31, Evidential Matter. Statement on Auditing Standard No. 80. AICPA, New York

 

Craven, B.M and C.L Marston. “Financial Reporting on the Internet by leading UK companies.” The European Accounting Review (1999): hal 324

 

Davey, Howard and Kanya Homkajohn. “Corporate Internet Reporting.” Problem and Perspektives in Management (2004): hal 212

 

Gaetner, N., M. Smith (2001). “E-commerce in A Web-Based Environment: Auditing Relative Advantages in The Australian Health Sector”< Managerial Auditing Journal. 16/6, 347-365

 

Gowthorpe, C. and Flynn, G. (1997). “Reporting on The Web: The State of The Art”, Accountancy, Agustus: 68-9

 

Halim, Abdul. Auditing and Sistem Informasi (Isu-Isu Dampak Teknologi Informasi), Edisi Pertama. UPP AMP YKPN Yogyakarta, 2004.

 

Halim, Abdul. Auditing: Dasar-dasar Audit Laporan Keuangan, Edisi ke-2. UPP AMP YKPN Yogyakarta, 2001.

 

Jones, Michael John and Jason Zezchong Xiao.  “Internet Reporting: Current Trends dan Trends 2010.” Accounting Forum Vol 27 No 2 ( Juni 2003): hal136-144

 

Kalakota R, Winston AB. (1996). Electronic Commerce: A manager’s Guide Addision-Wesley :Reading MA.

 

Rezaee Z., Elam R., and Sharbatoghile (2001). “A Continuous Auditing: The Audit of The Future”. Managerial Auditing journal. 16/33, hal 150-158

 

________ and R. Elam (2002). “Real Time Accounting System”. Internal Auditor. April:63-67

 

________ and C. Hoffman (2001). “XBRL: Standardized Elecronic Financial Reporting”. Internal Auditor. Agustus: 46-51

 

Xiao, Zezhong and Michael John Jones. “Immediate Trends in Internet Reporting.” The European Accounting Review (2002): hal 250-253

 

Xiao, Z (1996) “Information Technology and Future Approaches to Financial Reporting”, Accounting Research, 99(1): 9-13

 

Wilkinson, J.W., Cerullo M.J., Raval, V. and Wong-On-Wing, B. Accounting Information Systems: Essential Concepts dan Applications, 4th ed., New York:  John Wiley dan Sons, Inc., Danvers. 2000.

 

PENGARUH MOTIVASI DAN LOCUS OF CONTROL TERHADAP HUBUNGAN PENGANGGARAN PARTISIPATIF DAN KINERJA MANAJERIAL By Ranto P. Sihombing Dosen Universitas Katolik Soegijapranata

Published June 27, 2012 by e1lmiah

ABSTRACT

Empirically, this research tested the influence of budget-arranging participation on managing performance using contigency approach. Two variables tested, was motivation for a managing work and locus of control. Questionnaire was distributed to 300 managers in manufacturing firms. Response obtained of 93 managers  (31%) was analyzed using regression analysis.

The result of research showed that interaction between motivation and budget-arranging participation did not influenced directly on managing performance. However, locus of control was significantly found to have relationship between budget-arranging participation and managing performance. The influence of budget-arranging participation on managing performance will be high if manager has internal locus of control. In contrary, the influence of budget-arranging participation on managing performance will be low if manager has external locus of control.

Keywords: Budgeting Participation, Managing Performance, Contingency Theory, Motivation, and  Locus of control


I. PENDAHULUAN

Dalam proses penyusunan anggaran sangat diperlukan kerjasama pada manajer dari berbagai jenjang organisasi. Manajer umumnya ikut berpartisipasi dalam perancangan anggaran, supaya sasaran anggaran dapat tercapai. Menurut Siegel dan Marconi (1989), dengan berpartisipasi dalam perancangan anggaran, manajer merasa dilibatkan idenya, sehingga diharapkan akan mendorong moral kerja dan inisiatif para manajer. Partisipasi juga akan mengurangi tekanan dan kegelisahan, karena orang yang berpartisipasi dalam penetapan tujuan anggaran mengetahui bahwa tujuan tersebut rasional dan dapat dicapai. Hal tersebut membuat orang yang ikut berpartisipasi tidak merasa terpaksa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Penelitian mengenai keefektifan partisipasi dalam penyusunan anggaran terutama berhubungan dengan kinerja telah banyak dilakukan. Namun beberapa penelitian menunjukkan adanya ketidakjelasan hubungan antara anggaran partisipatif dan kinerja manajerial. Penelitian yang menguji hubungan tersebut, misalnya, Bass dan Leavitt (1963), Brownell (1982b), Brownell dan McInnes (1986), Indriantoro (1993), serta Supomo (1998). Hasil penelitian mereka menemukan hubungan positif dan signifikan antara anggaran partisipatif dengan kinerja manajerial. Namun, hasil penelitian Milani (1975), Kennis (1979), serta Haliman (1997) menemukan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara anggaran partisipatif dengan kinerja manjerial. Bahkan hasil penelitian Sterdy (1960), Bryan dan Locke (1967) menemukan bahwa terdapat hubungan negatif antara anggaran partisipatif dengan kinerja manajerial. Oleh karena itu, penelitian yang menguji anggaran partisipatif dengan kinerja manajerial merupakan topik yang menarik dalam penelitan bidang akuntansi sehingga ini yang menjadi alasan peneliti untuk memilih topik tersebut.

Ketidakkonsistenan hasil penelitian di atas menyebabkan diperlukan adanya pendekatan kontijensi seperti disarankan Govindarajan (1986). Pendekatan ini memberikan gagasan bahwa sifat hubungan yang ada dalam partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial mungkin ditentukan oleh faktor-faktor kondisional yang mempengaruhi hubungan kedua variabel tersebut. Pendekatan kontijensi memungkinkan adanya variabel-variabel lain yang bertindak sebagai faktor moderating atau intervening yang mempengaruhi hubungan antara partisipasi anggaran dengan kinerja manajerial (Brownell, 1982a; Murray, 1990; Shield dan Young, 1993). Murray (1990) menyarankan adanya variabel intervening dan variabel moderating yang harus dipertimbangkan dalam hubungan antara anggaran partisipatif dengan kinerja manajerial. Menurut Hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial dipengaruhi oleh sifat individu seperti motivasi (Brownell dan McInnes, 1986; Mia, 1988 dan Riyadi, 2000), kultur organisasional (Supomo dan Indriantoro, 1998) dan sikap terhadap pekerjaan (Milani, 1975; Mia, 1988), locus of control (Brownell, 1981, 1982b; Lucyanda, 1999; Lina, 2001).

Brownell dan McInnes (1986), melakukan penelitian yang menguji motivasi sebagai variabel intervening dalam hubungan anggaran partisipatif dengan kinerja manajerial. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa partisipasi dan kinerja memiliki hubungan yang positif, tetapi hubungan tersebut tidak melalui motivasi. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Mia (1988), yang menguji motivasi sebagai variabel moderating dalam hubungan anggaran partisipatif dengan kinerja manajerial dan hasilnya positif signifikan. Sebaliknya penelitian yang dilakukan oleh Riyadi (2000) hasilnya tidak signifikan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya sehubungan dengan faktor-faktor kontijensi tersebut maka penelitian ini mencoba memperluas penelitian yang dilakukan oleh Riyadi (2000) yang meneliti hubungan antara anggaran partisipatif dan kinerja manajerial dengan desentralisasi dan motivasi sebagai variabel moderating.

Peneliti sebelumnya (Mia, 1988) menguji motivasi sebagai variabel moderating dalam hubungan anggaran partisipatif dengan kinerja manajerial dan hasilnya positif signifikan. Sebaliknya penelitian yang sama oleh Riyadi (2000) hasilnya tidak signifikan. Selain motivasi, karakteristik individu yang penting dipertimbangkan dalam hubungan antara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial adalah locus of control. Ketika diberi kesempatan berpartisipasi dalam penentuan anggaran maka locus of control internal akan menetapkan sebuah tujuan yang lebih sulit sehingga melakukan kinerja yang lebih baik, sebaliknya locus of control eksternal akan menetapkan tujuan yang lebih mudah sehingga melakukan kinerja yang lebih baik (Yulk dan Latham, 1978). Oleh karena itu diharapkan dalam penelitian ini locus of control diharapkan dapat memoderasi hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji secara empiris sejauh mana motivasi dan locus of control mempengaruhi hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial.

II. TINJAUAN LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Penyusunan anggaran dimaksudkan bukan hanya untuk menyajikan informasi mengenai rencana keuangan yang berisi tentang biaya-biaya dan pendapatan untuk pusat-pusat pertanggung jawaban di dalam suatu organisasi bisnis, tetapi juga merupakan alat pengendalian, koordinasi, komunikasi, evaluasi kerja, dan motivasi (Kenis, 1979). Keterkaitan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan motivasi telah banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu. Hasil yang dapat disimpulkan dari penelitian tersebut adalah adanya hubungan yang positif (Kenis, 1979; Merchant, 1981; Brownell dan McInnes, 1986).         Brownell (1982a) dan Murray (1990) mengemukakan bahwa hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial ada kemungkinan dipengaruhi oleh faktor kontijensi, yaitu adanya variabel-variabel lain yang bertindak sebagai variabel intervening atau moderating. Sejalan dengan pernyataan tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Brownell dan McInnes (1986) menguji tentang motivasi karyawan sebagai variabel intervening dalam hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial, hasil yang ditemukan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa motivasi secara signifikan tidak berperan sebagai variabel intervening. Dengan kata lain hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial tidak melalui motivasi. Begitu juga penelitian yang dilakukan Milani (1975) memberikan hasil yang sama yaitu sikap dan motivasi tidak bisa berperan sebagai variabel intervening.

Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Brownell dan McInnes (1986) yang menguji motivasi sebagai variabel intervening dalam hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial, dalam penelitian ini peneliti mencoba menguji kembali hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Mia (1988). Hasilnya menunjukkan bahwa motivasi berperan sebagai variabel moderating dalam hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial.

Teori cognitive dissonance yang dikemukakan oleh Festinger (1957) menyatakan bahwa karyawan yang memiliki motivasi tinggi akan merasa khawatir jika kinerjanya di bawah tingkat pengharapannya (rendah) sehingga mempunyai keinginan yang besar untuk memperbaiki kinerjanya. Sebaliknya, karyawan yang memiliki motivasi kerja rendah, tidak merasa khawatir jika kinerjanya rendah sehingga tidak memiliki keinginan untuk memperbaiki kesalahannya.

Menurut Hopwood (1974), anggaran partisipatif sebagai suatu mekanisme pertukaran informasi dapat memungkinkan karyawan untuk memperoleh pengertian yang lebih jelas tentang pekerjaannya. Sehingga anggaran partisipatif membantu untuk memperbaiki kesalahan yang akhirnya meningkatkan kinerja. Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa partisipasi penyusunan anggaran akan lebih efektif apabila karyawan/manajer memiliki motivasi tinggi, sehingga kinerja yang dihasilkan akan menjadi tinggi pula. Dengan kata lain pengaruh penyusunan anggaran partisipatif terhadap kinerja manajerial akan tinggi apabila karyawan/manajer memiliki motivasi yang tinggi. Sebaliknya pengaruh penyusunan anggaran partisipatif terhadap kinerja manajerial akan rendah apabila karyawan memiliki motivasi yang rendah. Peryataan ini dapat diringkas dalam bentuk hipotesis.

H1 :   Interaksi antara partisipasi penyusunan anggaran dengan motivasi akan mempengaruhi kinerja manajerial. Pengaruh partisipasi dalam proses penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial akan tinggi apabila motivasi kerja yang dimiliki manajer tinggi, dan pengaruh partisipasi dalam proses penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial akan rendah apabila motivasi kerja yang dimiliki manajer rendah.

Locus of control merupakan variabel personal yang menggambarkan suatu kepercayaan umum bahwa seseorang dapat atau tidak dapat mengendalikan kehidupannya sendiri (Rotter, 1966). Menurut Lefcourt (1966), locus of control individu dikategorikan menjadi internal dan eksternal. Individu dengan locus of control internal mengacu pada persepsi terhadap kejadian baik positif maupun negatif sebagai konsekuensi dari perbuatan/tindakan yang berada di bawah pengendalian dirinya. Individu yang memiliki locus of control eksternal meyakini pengendalian berasal dari luar dirinya dan percaya hidupnya dipengaruhi oleh takdir, keberuntungan dan nasib. Gibson dkk (1997) menyatakan bahwa untuk meningkatkan kinerja, perlu mempertimbangkan variabel karakteristik personal yaitu locus of control.

Berdasarkan teori locus of control, dimungkinkan perilaku seorang manajer akan dipengaruhi oleh karakteristik locus of controlnya. Ketika suatu tujuan atau standar yang dirancang secara partisipasi disetujui, maka karyawan akan menginternalisasikan tujuan atau standar yang ditetapkan, dan karyawan juga memiliki rasa tanggungjawab pribadi untuk mencapainya, karena mereka merasa ikut terlibat dalam penyusunannya (Milani, 1975). Orang yang merancang tujuan dan sasaran, maka konsekuensinya adalah dia pula yang bertanggungjawab untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, dimungkinkan karakteristik seseorang (locus of control) sangat mempengaruhi keefektifan dan kesuksesan penyusunan anggaran secara partisipatif. Variabel locus of control sangat berperan dalam tahap-tahap perencanaan dan pelaksanaan anggaran karena biasanya yang internal menginginkan partisipasi yang tinggi, sebaliknya yang eksternal menginginkan partisipasi rendah.

Licata dkk (1986) menguji pengaruh locus of control pada hubungan antara partisipasi dan kinerja dalam lingkungan anggaran partisipatif. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa manajer dengan locus of control internal berkeinginan untuk berpartisipasi lebih tinggi daripada manajer dengan locus of control eksternal.

Indriantoro (1993) melakukan penelitian mengenai pengaruh locus of control terhadap hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dan kinerja manajerial dengan mengirimkan kuesioner kepada 179 manajer dari berbagai fungsi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak terdapatnya pengaruh moderating dari locus of control terhadap hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial.

Pengaruh partisipasi dalam proses penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial akan tinggi apabila manajer memiliki locus of control internal. Sebaliknya, partisipasi dalam proses penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial akan rendah apabila manajer memiliki locus of control eksternal. Partisipasi yang tinggi tersebut mengakibatkan yang internal merasa diikutsertakan dan diberi kesempatan untuk menyampaikan ide-ide dan gagasannya, sehingga dengan partisipasi diharapkan yang internal akan melakukan kinerja yang lebih baik, sedangkan individu yang memiliki locus of control eksternal menginginkan partisipasi yang rendah karena dengan partisipasi yang rendah mereka cenderung akan melakukan kinerja yang lebih baik. Pernyataan ini diringkas dalam bentuk hipotesis:

H2:    Interaksi antara partisipasi penyusunan anggaran dengan locus of control akan mempengaruhi kinerja manajerial. Pengaruh partisipasi dalam proses penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial akan tinggi apabila manajer memiliki locus of control internal, dan pengaruh partisipasi dalam proses penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial akan rendah apabila manajer memiliki locus of control eksternal.

III. METODE PENELITIAN

3.1. Pemilihan Sampel

Penelitian ini dilakukan pada manajer di perusahaan manufaktur yang ada di Indonesia. Agar penelitian dapat dilakukan dengan lebih efektif, maka penelitian dilakukan dengan mengambil sekumpulan sampel sebagai unit analisis. Sampel merupakan sekumpulan unit observasi yang diperoleh karena dilakukan penyampelan (sampling).

Sampel penelitian diambil secara purposive dari Indonesian Capital Market Directory 2004 dan Standard Trade & Industry Directory of Indonesia Volume 1 tahun 2003. Responden penelitian adalah manajer fungsional yang terdiri dari manajer pemasaran, manajer produksi, manajer keuangan, manajer personalia, dan manajer pembelian. Pemilihan responden manajer fungsional, karena biasanya manajer fungsional terlibat dalam proses penyusunan anggaran.

3.2. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

3.2.1. Partisipasi anggaran

Partisipasi anggaran dalam penelitian ini diartikan sebagai suatu tingkat keterlibatan dan pengaruh individu dalam proses penyusunan anggaran (Brownell, 1982). Partisipasi anggaran diukur dengan enam indikator yang dikembangkan Milani (1975). Responden diminta menjawab enam pertanyaan yang mengukur tingkat partisipasi pada proses anggaran dalam tujuh skala poin, dengan skala rendah (1) menunjukkan partisipasi yang rendah dan skala tinggi (7) menunjukkan partisipasi yang tinggi.

3.2.2.  Motivasi

Motivasi kerja diukur dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Lawler dkk. (1986). Dalam penelitian ini motivasi kerja mengacu pada paradigma pengharapan (expectancy paradigm) yang diturunkan kedalam tiga bagian yaitu: bagian pertama berisi 11 pertanyaan yang berkenaan dengan apa yang diharapkan apabila telah melakukan sesuatu dengan baik ([E è P] expectancy). Bagian kedua juga berisi 11 pertanyaan yang memuat tentang seberap pentingkah pengharapan yang diinginkan ([P è O] expectancy]. Bagian ketiga berisi tiga pertanyaan yang berkaitan dengan harapan yang diinginkan apabila bekerja keras (Valence) (Vroom, 1964; Ferris, 1977). Keterangannya E = Effort. P = Performance dan O = Outcome.

3.2.3. Locus of control

Locus of control adalah variabel kepribadian yang menggambarkan sebagai suatu kepercayaan umum bahwa seseorang dapat atau tidak dapat mengendalikan peristiwa yang terjadi padanya (Rotter 1966 dalam Brownell & McInnes 1986). Locus of control diukur dengan instrumen yang telah dikembangkan oleh Spector (1988) yaitu Work Locus of Control Scale (WLCS).

3.2.4. Kinerja

Kinerja manajer diukur dengan skala komprehensif dari Mahoney dkk., (1963) yang mengkategorikan kinerja manajer dalam delapan dimensi yaitu: perencanaan, investigasi, koordinasi, evaluasi, supervisi, staffing, negosiasi dan peran yang dijalankan. Responden diminta memberikan respon dalam tujuh skala poin, dengan skala satu menunjukkan di bawah rata-rata dan skala tujuh menunjukkan di atas rata-rata.

3.3. Pengujian Validitas dan Reliabilitas

Hasil pengujian reliabilitas dan validitas menunjukkan bahwa keempat instrumen yang digunakan cukup andal (reliable) dan sahih (valid). Hal ini ditunjukkan dengan hasil pengujian reliabilitas yang diperoleh diatas 0.60 (Nunnally, 1978), dan nilai Kaiser’s MSA diatas 0.50 (Kaiser dan Rice, 1974), serta factor loading berada diatas kisaran 0.40 (Chia, 1995). Hasil pengujian dirangkum dalam tabel 3.3 (lampiran).

3.4. Pengujian Hipotesis

Dari data yang telah dikumpulkan, akan dilakukan analisis dengan metode regresi berganda (multiple regression). Metode ini menghubungakan satu variabel dependen dengan beberapa variabel independen.

            Penelitian ini menggunakan pendekatan interaksi yang bertujuan untuk menjelaskan bahwa variasi kinerja manajerial dipengaruhi oleh interaksi dari dua variabel independen. Jika koefisien b4 signifikan, maka interaksi antara partisipasi penyusunan anggaran dengan motivasi mempengaruhi kinerja manajerial.

Untuk mengetahui lebih lanjut hubungan interaksi, maka diperlukan pengujian dengan menggunakan partial derivative. Jika hasil turunan parsial (partial derivative) dari kinerja terhadap partisipasi () memberikan nilai positif dan negatif yang berada pada kisaran nilai variabel moderating, maka hal ini menunjukkan bahwa partisipasi (X1) akan memiliki pengaruh non-monotonic terhadap kinerja (Y). Artinya pengaruh partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial dipengaruhi oleh variabel lain (Xi) yang bertindak sebagai variabel moderating. Dengan kata lain, variabel moderating mempengaruhi hubungan kedua variabel tersebut. Sedangkan apabila hasil () tidak memotong atau tidak mengubah arah dalam kisaran variabel moderating, maka hubungan antara partisipasi dengan kinerja memiliki efek monotonic.

IV. ANALISIS DATA

4.1. Gambaran Umum Responden

Sembilan puluh tiga responden yang dianalisis tersebut jabatan yang dimiliki responden menunjukkan manajer produksi sebanyak 16 orang (17.2%), manajer personalia sebanyak 26 orang (28%), manajer keuangan sebanyak 17 orang (18.3%), manajer pemasaran sebanyak 22 orang (23.7%), manajer pembelian sebanyak 12 orang (12.9%). Dari 93 responden, responden yang telah bekerja selama kurang dari 5 tahun sebanyak 14 orang (15.1%), responden yang bekerja antara 5-10 tahun sebanyak 31 orang (33.3%), responden yang telah bekerja lebih dari 10 tahun sebanyak 48 orang (51.6%).

4.2. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan

4.2.1. Pengujian Hipotesis 1

Tujuan pengujian ini adalah untuk melihat apakah motivasi kerja mempengaruhi hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial. Hasil analisa regresi tersaji dalam tabel 4.3 (lampiran).

Tabel 4.3 menunjukkan kinerja manajerial dijelaskan oleh partisipasi, motivasi dan interaksi antara partisipasi dan motivasi (R2) sebesar 20,8% dengan nilai F = 7,790 signifikan pada p = 0,000. Hal ini berarti model yang digunakan menujukkan goodness of fit yang baik. Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa koefisien b4 tidak signifikan. Hal ini berarti bahwa motivasi kerja yang dimiliki manajer tidak mempengaruhi hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial. Hasil pengujian ini tidak berhasil mendukung hipotesis 1. Artinya motivasi yang dimiliki manajer tidak dapat berperan sebagai variabel moderating didalam hubungan antara partipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial.

Hasil pengujian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian Mia (1988) yang menemukan bahwa motivasi secara signifikan berperan sebagai variabel moderating dalam hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial. Alasan tidak berhasilnya penelitian ini dalam mendukung hipotesis 1 adalah kemungkinan motivasi bukan sebagai moderating tetapi sebagai variabel intervening. Hal ini didukung dari hasil penelitian yang dilakukan di Indonesia oleh Lucyanda (2001) yang hasilnya menyatakan bahwa partisipasi anggaran berpengaruh secara positif terhadap kinerja tidak secara langsung, tetapi dimediasi oleh motivasi.

4.2.2. Pengujian Hipotesis 2

Tabel 4.4 (lampiran) menunjukkan kinerja manajerial dijelaskan oleh partisipasi, locus of control dan interaksi antara partisipasi dan locus of control (R2) sebesar 18,3 % dengan nilai F = 6,629 signifikan pada p = 0,000. Hal ini berarti model yang digunakan menunjukkan goodness of fit yang baik. Hasil pengujian ini menunjukkan hipotesis null ditolak, sehingga hipotesis kedua yang diajukan peneliti memperoleh dukungan empiris. Hal ini berarti bahwa interaksi antara partisipasi anggaran dengan locus of control yang dimiliki manajer berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Dapat juga dikatakan, locus of control yang dimiliki manajer berperan sebagai variabel pemoderasi hubungan antara partipasi anggaran dan kinerja manajerial.

Hasil penelitian ini tidak sama dengan hasil penelitian yang dilakukan di Indonesia mengenai variabel locus of control yaitu penelitian yang dilakukan Mustikawati (1999). Hasil penelitian Mustikawati (1999) menunjukkan bahawa locus of control bukan sebagai variabel pemoderasi yang berpengaruh pada hubungan antara penyusunan anggaran partisipasi dan kinerja manajerial.

Grafik yang disajikan dalam Gambar 4.1(lampiran), menunjukan bahwa interaksi antara partisipasi penyusunan anggaran dengan locus of control mempengaruhi kinerja manajerial, dengan kata lain locus of control dapat berperan sebagai variabel moderating dalam hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial. Sumbu vertikal () menunjukkan pengaruh dari partisipasi penyusunan anggaran (X1) terhadap kinerja manajerial (Y). Sumbu horisontal menunjukkan kisaran dari derajat locus of control (X3), dan kurva (slope garis) menunjukkan perubahan kinerja manajerial yang disebabkan karena adanya perubahan dalam partisipasi penyusunan anggaran melalui kisaran nilai yang ada pada variabel locus of control.

Temuan ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial hanya pada tingkat locus of control lebih tinggi dari titik infleksi 0.45.

 

V. PENUTUP

5.1. Simpulan dan Implikasi

Berdasarkan ketidakkonsistenan hasil penelitian mengenai hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial, Govindarajan (1986a) mengemukakan bahwa untuk menyelesaikan perbedaan tersebut dilakukan dengan menggunakan pendekatan kontijensi (contingency approach). Pendekatan ini secara sistematis mengevaluasi berbagai kondisi atau variabel yang dapat mempengaruhi hubungan diantara kedua variabel tersebut.

Penggunaan kerangka kontijensi memungkinkan dimasukkannya variabel lain yang bertindak sebagai faktor yang mempengaruhi hubungan partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial. Hubungan tersebut dapat berupa variabel psikologi misalnya motivasi (Mia, 1988) atau locus of control (Licata, 1986).

Hasil penelitian ini secara empiris menunjukkan bahwa interaksi antara partisipasi dalam penyusunan anggaran dengan locus of control berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Hal ini berarti, secara empiris locus of control yang dimiliki manajer dapat berperan sebagai variabel pemoderasi (moderating) dalam hubungan antara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial. Namun dalam pengujian hipotesis (1) hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penelitian ini tidak berhasil mendukung hipotesis.

Selanjutnya, untuk memperjelas sifat dan arah masing-masing variabel, dilakukan perhitungan matematis partial derivative, yang kemudian hasilnya disajikan dalam bentuk grafik. Dari grafik yang diperoleh dari pengujian nonmonotonic, dapat menunjukkan arah yang sesuai dengan hipotesis yang peneliti ajukan, yaitu perubahan kinerja manajerial disebabkan karena adanya perubahan dalam partisipasi penyusunan anggaran melalui kisaran nilai yang ada pada variabel locus of control. Implikasi yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat masukan pada manajer perusahaan yang memiliki locus of control, akan mempengaruhi hubungan yang positif antara partisipasi didalam penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial.

5.2. Keterbatasan dan Saran

Peneliti menyadari adanya beberapa keterbatasan yang dimiliki penelitian ini. Berikut ini beberapa keterbatasan yang mungkin dapat mempengaruhi hasil dalam penelitian ini (1) responden yang digunakan dalam penelitian ini jumlahnya sangat terbatas sehingga harus berhati-hati didalam menggeneralisasikan hasil penelitian ini (2) instrumen yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada pengukuran diri sendiri (self-rating), instrumen ini diduga akan mempengaruhi hasil yang diperoleh seandainya instrumen variabel ini menggunakan konsep superior rating, karena kedua konsep tersebut memiliki sudut pandang yang berbeda. Pengukuran kinerja manajerial mungkin juga dipengaruhi oleh variabel lain seperti perilaku kelompok, keamanan kerja, kondisi pekerjaan, sistem penghargaan dan kebijaksanaan manajemen yang diharapkan dimana variabel-variabel tersebut tidak diteliti dalam penelitian ini (Mia, 1988). Oleh karena itu mungkin variabel-variabel tersebut bisa dipakai dalam faktor kontijensi yang berperan sebagai variabel moderating dalam hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial (3) keterbatasan lainnya adalah metode penelitian yaitu survei. Hal ini menyebabkan peneliti kesulitan untuk memastikan apakah responden yang mengisi adalah responden yang dituju dalam penelitian ini yaitu manajer perusahaan. Saran bagi peneliti selanjutnya (1) penelitian selanjutnya mungkin dapat melakukan penelitian dengan menggunakan responden para manajer fungsional pada perusahaan jasa (2) penelitian mendatang diharapkan lebih memfokuskan pada faktor-faktor yang mempengaruhi (antecedents) partisipasi anggaran seperti: ketidakpastian tugas, ketidakpastian lingkungan, dan asimetri informasi (Shields dan Shields, 1998) (3) penelitian yang mendatang diharapkan menguji variabel motivasi sebagai pemediasi hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial.

DAFTAR PUSTAKA

Bass B.M. and H.J. Leavitt (1963), The Dimensions of organizational commitment. Journal of Organizational Behavior, 13, 379-387.

 

Brownell, P. !981. Participation in Budgeting Process, Locus of Control and Organizational effectiveness, The Accounting Review, Oktober Hal 844-860

______, 1982. A field Study Examination of Budgetary Participation and Locus of Control, The Accounting Review. Vol. LVII, No. 4: 766-777

______, and McInnes. 1986. Budgetary Participation, Motivation, and Managerial Performance, The Accounting Review. Vol. LVII, No 4:587-600

Brownell, P., 1982a, Participation in The Budgeting Process When it Works and When it Doesn’t, Journal of Accounting Literature, Vol 1: 124-153

Brownell, P., 1982b, The Role of Accounting Data in Performance Evaluation, Budgetary Participation and Organizational Effectiveness, Journal of Accounting Research, Vol 20/1: 13-27

Bryan, J.F dan Locke E.A. (1967), Goal Setting as a Means of Increasing Motivation, and Managerial Performance, Journal of Applied Psychology, June, hal 274-277

Chia. Y. M., 1995, Decentralization, Management Accounting Systems (MAS) Information Characteristic and Their Interaction Effects on Managerial Performance: A Singapore Study, Journal of Business Finance and Accounting, Sept: 811-830

Ferris. K.R, 1977, A Test of the Expectancy Theory of Motivation in an Accounting Environment, The Accounting Review: 605-615

Festinger. L. A., 1957, Theory of Cognitive Dissonance, (Evanston, IL: Row-Peterson)

Govindarajan. V. 1986. Impact of Participation in Budgetary Process on Managerial Attitudes and Performance: Universalistic and Contingency Perspective, Decision Science, hal 496-516

Gibson, J.L, et al., 1997, Organizations : Behaviour Structure Process, Nineth Edition, New York : McGraw-Hill

Hopwood, A.G., 1974, Accounting and Human Behaviour, New Jersey : Prentice Hall, Inc., Engelewood Cliffs

Haliman, R., G. 1997. Pengaruh Pendidikan Formal, Pengalaman dan Locus of Control Terhadap Hubungan Antara Partisipasi Anggaran Dengan Kinerja/Kepuasan Kerja, Thesis S2.

Indriantoro, N, (1993), The Effect of Participative Budgeting on Job Performance and Job Satisfaction with Locus of Control and Cultural Dimensions as Moderating Variables, Dissertation

Kenis, Izzettin, 1979, “Effect of Budgetary Goal Characteristic on Managerial Attitudes and Performance”, The Accounting Review, 14 (4), hal. 707-721

Kaiser. H. F., dan J. Rice., 1974, Little Jiffy, Mark IV, Educational and Psychological Measurement, Vol 34, No. 1 (Spring) : 111-117

Lawler. E. E., 1986, High-Involment Management, San Fransisco: Jossey-Bass Publishers

Lefcourt, M. H. 1966. Internal Versus External Control Of Reinforcement: A Review. Psychological Bulletin, April: 206-220, dalam Belkoui, A. 1989. Goal Setting, participatice budgeting, and performance. Quorum books. New York

Licata, M. P., Robert, H. S., and Robert B. W. (1986), A Note on Participation in Budgeting and Locus of Control, The Accounting Review, Januari, hal. 112-117

Lucyanda, Jurica, 1999, “Hubungan Antara Anggaran Partisipatif dengan Kinerja Manajerial: Peran Locus of Control sebagai Variabel Moderating dan Motivasi sebagai variabel Intervening, Thesis S2.

Lina, 2001, “Pengaruh Locus of Control dan Pelimpahan Wewenang terhadap Hubungan Partisipasi Penyusunan Anggaran dengan Kinerja Manajerial, Tesis S2

Merchant, K.A., 1981, “The Design of The Corporate Budgeting System: Influences on Managerial Behavior and Performance”, The Accounting Review, hal 813-829

Mahoney, T. A., Jerdes, T. H and Carroll, S. J. 1963. Development Managerial Performance: A Research Approach, Southwestern Publishing Co.

Milani, K. 1975. The Relationship of Participation in Budget-Setting to Industri Supervisor Performances and Attitudes: A field Study; The Accounting Review, April, hal. 274-284

Mia, L. (1988), Mangerial Attitude, Motivation and Effectiveness of Budget Participation, Accounting Organizations and Society, Vol 13, No5, hal 465-475

Murray. D., 1990, The Performance Effects of Participative Budgeting: An Integration of Intervening dan Moderating Variables, Behavioral Research In Accounting, Vol. 2: 104-123

Nunnaly, J.C., 1978, Psychometric Theory, New York : McGraw-Hill

Rotter, J. 1996. Generalized Expectancies For Internal Versus External Control Reinforcement, Psychology Monographs: General Applied

Riyadi, S. 2000. Motivasi dan Pelimpahan Wewenang Sebagai Variabel Moderating Dalam Hubungan Antara Partispasi Penyusunan Anggaran dan Kinerja Manajerial, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 3/2 (Juli):14-150

Riyanto. B., dan D. Ryan., 1996, A Test of the Effect of Attitude, Strategy, and Decentralization on Budget Participation: A System of Fit Approach, Temple University, Working Paper

Siegel, G. and Marconi, R. H, 1989. Behavioral Accounting: South-Wetern Publishing Co. Cincinnati, Ohio

Sterdy, AC., (1960), Budget Control and Cost Behavior, Prentice Hall Inc., Englewood Cliff, N.J

Shields, M. D dan Young, S. M. 1993, Antecedent and Consequences of Participative Budgeting Evidence on the Effects of Asymetrical Information, Journal Of Management Accounting Research. Vol. 5 Pg 265-280

 

Supomo, B., dan Indriantoro, N. 1998. Pengaruh Struktur dan Kultur Organisasional Terhadap Keefektifan Anggaran Partisipatif Dalam Meningkatkan Kinerja Manajerial: Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Indonesia. Kelola, Vol. VII/18: 61-85

Yulk, G. A., and Latham, G. P. 1978. Interrelationship Among Employee Participation, Individual Differences, Goal Difficulty, Goal Acceptance, Goal Instrumentality, and performance. Personnel Psychology, 31:305-323

Vroom. V. H., 1964, Work and Motivation, New York, CA John Wiley

LAMPIRAN

Tabel 3.3. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas

Variabel

Cronbach’s Alpha

Factor Loading

Partisipasi

0.77

0.57-0.77

Motivasi

0.87

0.43-0.74

Locus of Control

0.85

0.77-0.85

Kinerja Manajerial

0.72

0.46-0.75

Tabel 4.3. Hasil interaksi antara partisipasi dan motivasi mempengaruhi

kinerja manajerial.

Simbol

Variabel

Koefisien Beta

Nilai Koefisien

Standard Error

t-value

p-value

X1

X2

X1.X2

KonstantaPartisipasi

Motivasi

Partisipasi-Motivasi

a

b1

b2

b4

3,106

0,879

0,106

-0,03

11,984

0,449

0,051

0,002

0,259

1,959

2,,090

-1,490

0,796

0,053

0,039

0,140

R2= 0,208

F=7,790

p=0,000

n=93

Adjusted R2 = 0,181

Tabel 4.4. Hasil interaksi antara partisipasi anggaran dengan

locus of control mempengaruhi kinerja manajerial.

Simbol

Variabel

Koefisien Beta

Nilai Koefisien

Standard Error

t-value

p-value

X1

X3

X1.X3

Konstanta

Partisipasi

Locus of Control

Partisipasi-Locus of Control

a

b1

b3

b5

28,475

-0,252

0,225

0,555

2,942

0,246

0,221

0,246

9,679

-1,024

1,018

2,256

0,000

0,309

0,311

0,027

R2= 0,183

F=6,629

p=0,000

n=93

Adjusted R2 = 0,155

   Gambar 4.1. Interaksi antara Partisipasi Penyusunan Anggaran dengan

locus of control   mempengaruhi kinerja manajerial.

0.45

X3 (locus of control)

– 0.25