PENGAUDITAN LAPORAN KEUANGAN DI ERA TEKNOLOGI

Published June 27, 2012 by e1lmiah

Ranto P. Sihombing 1

 

The usage of internet technology in reporting financial statement has changed the audit process since it force auditors to work with electronic evidence. The purpose of this paper is exploring the usage of internet technology in reporting financial statement and its impact in changing traditional audit techniques.

 

Keyword: Technology; Financial Statement; Audit Technique; Electronic Evidence

 

 

Pendahuluan

Perubahan yang sangat cepat di bidang teknologi telah mempengaruhi kehidupan manusia.  Salah satunya adalah internet, yaitu jaringan komputer yang tidak mempunyai pusat pengendalian atau organisasi, yang dapat digunakan untuk komunikasi, kebutuhan penelitian dan juga jual beli barang dan jasa (Elaine, 2000). Jones dan Xiao (2003) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa di bidang akuntansi, internet berpotensi dalam mempercepat penyampaian informasi laporan keuangan sehingga stakeholder dapat mengakses dengan cepat.

Penggunaan teknologi internet serta komputer organisatoris yang senantiasa berkembang telah menuntut auditor untuk memperoleh bukti secara elektronis pula. Hal ini mendorong profesi tersebut untuk menyertakan konsep bukti elektronis ke dalam standar profesionalnya. Berkaitan dengan hal ini, Lembaga Akuntan Publik Amerika (AICPA) telah mengeluarkan Statement on Auditing Standard (SAS) No.80, amandemen SAS No. 31, tentang masalah bukti (Evidential Matter).

 

 

 

______________________________________

1 Penulis adalah staf pengajar Fakultas Ekonomi/Akuntansi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

SAS No.80 memberikan guidance (pedoman) bagi auditor dalam melakukan audit laporan keuangan. Hal ini disebabkan semakin banyaknya perusahaan menggunakan teknologi internet untuk memproses transaksi (Halim, 2004). Pada saat bukti menjadi lebih bersifat elektronik, maka hal ini akan menyebabkan dihasilkannya audit trail yang lebih sedikit. Oleh karena itu, auditor harus mengubah teknik audit mereka. SAS No.80 menyatakan bahwa ketika bukti yang ada disajikan dalam bentuk elektronik, maka auditor perlu mempertimbangkan penggunaan teknik continuous auditing.

Dalam makalah ini, penulis ingin memaparkan beberapa hal mengenai proses pengauditan yang perlu dipahami auditor, sehubungan dengan perkembangan teknologi yang berdampak pada operasi bisnis klien. Secara berurutan akan dibahas mengenai penyampaian informasi melalui internet, manfaat pelaporan keuangan pada internet, format pelaporan keuangan internet, bukti audit, continuous auditing, pengendalian internal.

 

Penyampaian Informasi Melalui Internet

Informasi bukan hanya sekedar kumpulan data tetapi lebih merupakan suatu bentuk kecerdasan (Wilkinson, 2000). Informasi yang cerdas adalah informasi yang bermanfaat bagi penerima informasi. Manfaat informasi yang paling utama adalah untuk mengurangi ketidakpastian dalam pengambilan keputusan (Wilkinson, 2000).

Menurut Halim (2004), kualitas suatu informasi tergantung dari atribut informasi tersebut, yaitu akurat (accuracy), tepat waktu (timeliness), dan relevan (relevancy). Akurat berarti informasi bebas dari kesalahan dan tidak bias. Tepat waktu berarti informasi sampai kepada penerima dalam jangka waktu yang dibutuhkan. Sedangkan relevan berarti informasi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Salah satu cara agar informasi yang disampaikan tepat waktu maka dapat disampaikan dengan menggunakan internet (Halim, 2004).

Penelitian yang dilakukan oleh Cheng, Lawrence dan Coy (2000) dalam Howard Davey dan Kanya Homkajohn (2004) menyatakan bahwa 32 (80%) perusahaan dari 40 perusahaan yang ada di Thailand sudah mempunyai web sites dan 70 % sudah menyampaikan laporan keuangannya pada web sites. Penelitian lain yang dilakukan di Inggris yang melakukan survey top 100 Fortune Global pada 500 perusahaan menunjukkan  bahwa 89 % sudah mempunyai web sites (Flynn dan Gowthorpe, 1997 dalam Craven,1999).

Penelitian yang dilakukan oleh Jones dan Xiao (2003) menduga bahwa internet akan mempercepat penyampaian informasi non-finansial pada waktu mendatang seperti informasi lingkungan, informasi sosial dan juga perusahaan pemerintahan bahkan informasi kualitatif. Bahkan pada tahun 2010, diduga bahwa pelaporan keuangan dengan menggunakan internet akan lebih tepat waktu dan menjadi real time reporting (Jones dan Xiao, 2003).

 

Manfaat Pelaporan Keuangan Pada Internet

Internet disebut sebagai suatu sistem komunikasi (Xiao dan Jones, 2000). Sebagai suatu sistem komunikasi, hal tersebut terutama mempengaruhi aspek komunikasi pelaporan keuangan seperti akses, penyebaran, interaksi, dan penyajian. Internet mendorong komunikasi one-way, two-way dan multi-way serta memberikan pengembangan terhadap interaktif aplikasi yang tinggi. Hal ini menawarkan interaksi pemakai dengan penyedia informasi perusahaan. Internet juga bersifat real-time sehingga mempercepat penyampaian informasi keuangan. Selain itu internet dapat diakses di manapun di seluruh dunia, sehingga data elektronik dapat dengan mudah dibawa kemana-mana dan dapat diakses secara menyeluruh (Xiao dan Jones, 2000).

Hasil penelitian Jones dan Xiao (2003) menyatakan bahwa perusahaan akan meningkatkan penggunaan internet, yang memberikan produk yang up-to-date dan informasi jasa dan catatan secara elektronik. Bahkan para ahli memprediksi bahwa penggunaan internet akan memampukan perusahaan untuk menghubungkan informasi keuangan kepada perusahaan yang lain sehingga mendorong pemakai untuk menggunakan web-based financial information (Jones dan Xiao, 2003).

 

Format Pelaporan Keuagan Internet

Teknologi telah mengubah cara organisasi dalam menjalankan bisnis dan menerbitkan laporan keuangan (Halim, 2004). Sebagian besar perusahaan menyajikan laporan keuangan di internet dengan menggunakan format HTML (Rezaee dan Hoffman, 2001). Format HTML efektif dalam menyampaikan informasi dasar yang terkait dengan pengungkapan finansial. Namun format HTML tidak memungkinkan pencarian, analisis, dan manipulasi informasi tanpa down loading dan transfer kedalam spreadsheet atau aplikasi software. Saat ini standard tekhnologi penyajian laporan keuangan di internet telah berkembang dari Extensible Markup Language (XML) menjadi Extensible Business Markup Language (XBRL).

Salah satu manfaat fitur XBRL adalah memungkinkan organisasi untuk menyiapkan seperangkat laporan keuangan dalam sebuah format yang dapat dilihat dan digunakan dengan berbagai aplikasi. Hal ini mengeliminasi kebutuhan untuk menyiapkan laporan keuangan dalam format yang berbeda, sehingga mengurangi waktu, menghemat biaya, dan mengurangi kemungkinan kekeliruan dalam dokumen yang berbeda. Pengguna laporan keuangan dapat dengan mudah membaca seluruh laporan keuangan dengan men-download XBRL atau dari web site (Jones dan Xiao, 2003).

AICPA telah bekerja dengan organisasi internasional dan nasional dalam beberapa tahun untuk mengembangkan spesifikasi XBRL. XBRL pertama digunakan untuk laporan keuangan untuk perusahaan komersial dan industri yang disusun berdasarkan GAAP Amerika Serikat yang dikeluarkan pada 31 Juli 2000. Pada format XBRL, informasi keuangan hanya dimasukkan satu kali, dan kemudian diubah dalam berbagai bentuk, seperti dokumen HTML untuk web site organisasi, EDGAR filling document untuk tujuan umum (seperti SEC), dan format pelaporan khusus lainnya seperti untuk tujuan pajak atau laporan kredit. Dengan merancang bahasa standar untuk perusahaan, organisasi, auditor, dan pengguna pelaporan keuangan. Selain itu format XBRL akan meningkatkan ketersediaan, reliabilitas dan relevansi pelaporan keuangan (Halim, 2004). Manfaat lain dari format XBRL adalah mempermudah pencarian pelaporan keuangan dibandingkan dengan format HTML, penemuan informasi yang cepat dapat menghemat waktu dan proses pengauditan pelaporan keuangan terstandarisasi secara on-line sehingga akan lebih efisien dan efektif (Rezaee dan Hoffman, 2001).

 

Bukti Audit

Tujuan audit laporan keuangan adalah untuk memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan klien. Untuk mendasari pemberian pendapat tersebut, auditor harus memperoleh dan mengevaluasi bukti-bukti yang mendukung laporan keuangan (Halim, 2001). Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan agar bukti yang diperoleh dapat mendukung auditor dalam memberikan pendapat terhadap laporan keuangan yang diaudit (Halim, 2001) antara lain:

  1. Bukti apa yang diperlukan untuk setiap asersi.
  2. Prosedur audit apa yang digunakan untuk mengumpulkan bukti yang persuasif dan kompeten.
  3. Seberapa banyak bukti dikatakan mencukupi.
  4. Alat apa yang paling efisien dan dapat dipercaya untuk mengumpulkan bukti yang kompeten dan cukup.

SAS No.80 memberikan panduan bagi auditor untuk mengaudit transaksi dalam bentuk format elektronik. SAS No.80 mensyaratkan agar klien auditor dapat mengirimkan, memproses, menyimpan atau mengakses sejumlah informasi elektronik yang signifikan. Hal ini diperlukan untuk menguji kecukupan pengendaliannya secara normal.

AICPA mendefinisikan bukti elektronik sebagai pemindahan informasi, pemrosesan, penyimpanan atau akses yang dilakukan dengan alat elektronik yang dapat digunakan oleh auditor untuk mengevaluasi asersi laporan keuangan. Tabel 1 berikut ini membandingkan dan membedakan bukti tradisional dan elektronik dalam konteks beberapa atribut yang diperlukan oleh bukti audit.

 

Tabel 1

Perbandingan antara bukti tradisional dan bukti elektronik

 

Atribut

Bukti Tradisional

Bukti Elektronik

Kesulitan untuk Diubah

Sulit diubah dan dimungkinkan untuk mendeteksi perubahan dalam pekerjaan audit normal

Lebih mudah untuk dilakukan perubahan dan lebih sulit dideteksi. Oleh karena itu, efektifitas internal control memainkan peranan yang penting dalam mendeteksi perubahan tertentu dalam bukti elektronik

Kekuatan Kredibilitas

Paper document mempunyai tingkat kredibilitas yang tinggi

Kredibilitas bukti elektronis tergantung efektifitas struktur pengendalian internal

Kelengkapan Dokumen

Paper evidence memasukkan semua persyaratan transaksi  penting

Pemrosesan elektronik dapat menyembunyikan bukti-bukti dengan kode atau dengan cross reference ke data fields lainnya

Bukti Pengesahan

Pengesahan pada paper evidence sangat jelas ditampilkan pada dokumen asli

Pengensahan bukti elektronik mungkin tidak jelas dan dapat dilakukan dengan menekan salah satu tombol pada keyboard

Kemudahan untuk Digunakan

Paper evidence tidak memerlukan alat khusus untuk digunakan dalam mengevaluasi dan memahami bukti

Bukti elektronik membutuhkan pengetahuan tentang teknik data extraction untuk mengevaluasi dan memahami bukti

Kejelasan

Paper evidence biasanya jelas dan akan menghasilkan kesimpulan yang sama apabila digunakan oleh pembaca yang berbeda

Bukti elektronik tidak jelas dan dapat ngakibatkan kesimpulan yang berbeda oleh beberapa auditor tergantung pada prosedur yang digunakan dan pengendalian yang diimplementasikan.

Sumber: Halim, 2004

 

 

Continuous Auditing (CA)

Perubahan proses bisnis telah menggeser sumber informasi yang bersifat tradisional menjadi elektronik. Hal ini memerlukan penciptaan prosedur audit baru untuk melakukan audit. Tujuan pokok audit keuangan dan standar pengauditan yang berlaku umum tidak berubah karena semua atau sebagian dari arsip klien dalam format elektronik. Namun demikian, prosedur audit dapat berubah ketika sebagaian besar informasi yang ada hanya dalam format elektronik sehingga menuntut auditor independen untuk menggunakan Continuous Auditing (CA) (Halim, 2004). Menurut Rezaee (2001), CA adalah proses sistematis untuk mengumpulkan dan mengevaluasi bukti audit elektronik sebagai dasar yang rasional untuk menarik suatu pendapat atas kewajaran penyajian laporan keuangan berdasarkan sistem akuntansi yang paperless dan real-time. CA terdiri dari lima tahap yaitu:

  1. Perencanaan penugasan audit yang meliputi prosedur analitis.
  2. 2.       Menilai struktur pengendalian intern sistem real time accounting (RTA) yang mencakup hasil test of control dan penilaian atas control risk.
  3. Pelaksanaan substantive test internal dan terus menerus atas transaksi yang detail.
  4. Menyelenggarakan substantive test atas saldo akhir tahun dan hasil menyeluruh termasuk prosedur analitis.
  5. Menyelesaikan audit dan menerbitkan laporan audit.

Manfaat utama dalam pemanfaatan CA adalah pengurangan biaya dalam menyelenggarakan suatu penugasan audit. CA memungkinkan auditor untuk menguji sampel yang lebih besar (bahkan sampai 100 persen) terhadap data dan transaksi klien dengan lebih cepat dan lebih efisien dibandingkan dengan pengujian manual. Selain itu CA dapat mengurangi biaya-biaya auditor dan jumlah waktu yang biasanya dihabiskan untuk pengujian manual atas transaksi dan saldo. CA juga dapat meningkatkan kualitas audit keuangan sehingga memungkinkan auditor untuk lebih memusatkan perhatian pada pemahaman struktur industri dan bisnis klien dan struktur pengendalian internnya (Halim, 2004).

Tabel 2 menampilkan suatu ikhtisar siklus akuntansi berdasarkan sistem real-time accounting (RTA) dan proses audit yang terkait berdasarkan CA. Tabel 2 menunjukkan bahwa sistem RTA tersebut terdiri dari proses sebagai berikut:

  1. Identifikasi transaksi dan peristiwa ekonomi.
  2. Pengukuran, pengakuan, dan pelaporan transaksi berdasarkan sistem akuntansi yang real- timedan on-line.
  3. Adanya struktur pengendalian intern yang memadai dan efektif.
  4. Pengolahan transaksi secara elektronik.
  5. Saldo rekening general ledger dan subsidiary account  yang on-line.
  6. 6.       Pembuatan laporan keuangan real-time dan on-line.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2

Skema untuk Siklus Akuntansi berdasarkan Sistem RTA dan Aktivitas Audit

Periode Waktu

Klien: Sistem Akuntansi real-time

Auditor: Metode Continuous Auditing

Aktivitas Audit

Transaksi dan peristiwa ekonomi

Perencanaan audit

Memperoleh informasi mengenai industri dan bisnis klien, memperbaharui pengetahuan dan pemahaman struktur pengendalian intern termasuk aktivitas dan lingkungan pengendalian, merancang strategi audit termasuk model resiko audit dan program awal audit

Periode tahunan laporan keuangan

Sistem informasi akuntansi on-line dan real-time

Struktur Pengendalian Internal

Pertimbangan terhadap struktur pengendalian internal

Memahami dan evaluasi struktur pengendalian internal, melakukan uji pengendalian elektronik, memodifikasi program audit

Memrosesan transaksi secara elektronik

Pengujian substantif detail transaksi

Memilih teknik dan alat audit elektronik yang sesuai, melakukan prosedur audit, memastikan bahwa bukti yang diperoleh cukup dan kompeten

General ledger dan subsidiary ledger secara on-line

Pengujian substantif dan prosedur analitis

Memperoleh bukti audit yang cukup dan kompeten, mengevaluasi ketepatan dan reliabilitas bukti audit, memonitor pendekatan audit

Laporan keuangan yang on-line  dan real-time

Menyelesaikan audit dan menerbitkan

laporan audit

Menerbitkan laporan audit, memutuskan untuk menerima atau melanjutkan penugasan audit

Sumber: Rezaee, 2001

Pengendalian Internal

Pertimbangan struktur pengendalian internal RTA melibatkan pengujian dan penilaian pengendalian manajemen dan sistem aplikasi. Auditor mempelajari dan mengevaluasi lingkungan pengendalian tersebut dan komponen penilaian resiko struktur pengendalian internal dengan menguji pengendalian manajemen, seperti audit committee, filosofi manajemen dan gaya operasi, pengelolaan risiko. Auditor mempelajari dan mengevaluasi aktivitas kendali spesifik dengan pengujian sistem pengendalian manajemen dan pengendalian sistem aplikasi, yaitu input, proses, output dan pengendalian manajerial. AICPA (1996) menyatakan bahwa hal-hal yang berhubungan dengan bukti tentang efektivitas desain atau operasi struktur pengendalian internal dapat diperoleh melalui penggunaan teknik-teknik audit berbantuan komputer.

Teknik audit berbantuan komputer yang paling umum digunakan dalam menguji efektivitas struktur pengendalian intern di antaranya adalah (Rezaee, 2001):

  1. Test data atau integrated test facilities yang digunakan dalam menentukan apakah sistem RTA memporses transaksi dengan valid atau invalid serta memverifikasi kebenaran dan kelengkapan pemrosesannya.
  2. Parallel simulation adalah suatu teknik yang mengembangkan suatu program komputer yang mereplikasi beberapa bagian dari sistem aplikasi klien untuk menilai efektivitas suatu aktivitas pengendalian.
  3. Pemrosesan secara simultan (concurrent processing) digunakan dalam merancang modul audit dan kode pemrograman dan menerapkannya secara langsung ke dalam aplikasi komputer untuk secara terus-menerus memilih dan memonitor pemrosesan data.
  4. Simulasi yang terputus-putus dan berkelanjutan (Continuous and Intermittent Simulation) yang digunakan untuk memilih transaksi selama pemrosesan untuk review audit dan memberikan kapabilitas auditing on-line.

Simpulan

Perubahan teknologi yang begitu cepat mengakibatkan perubahan praktik bisnis dan cara pemrosesan pencatatan dan penyimpanan transaksi bisnis oleh sebagian besar organisasi. Demikian pula dengan cara penyampaian laporan keuangan, yaitu dengan menggunakan teknologi internet, sehingga informasi yang dihasilkan bersifat real-time.

Teknologi juga membawa perubahan terhadap teknik pengauditan yang disebut continuous auditing (CA). Hal ini disebabkan oleh bukti yang dihasilkan dari transaksi yang bersifat on-line bersifat elektronik. Penggunaan CA memungkinkan auditor untuk melakukan verifikasi terhadap bukti-bukti yang dihasilkan untuk mendukung opini yang akan dikeluarkan oleh auditor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) (1994) Improving Business Reporting – A Customer Focus. New York: Report of the AICPA Spesial Committee on Financial Reporting

 

­­­­­­­­________(1996). Amendement to Statement on Auditing Standards No. 31, Evidential Matter. Statement on Auditing Standard No. 80. AICPA, New York

 

Craven, B.M and C.L Marston. “Financial Reporting on the Internet by leading UK companies.” The European Accounting Review (1999): hal 324

 

Davey, Howard and Kanya Homkajohn. “Corporate Internet Reporting.” Problem and Perspektives in Management (2004): hal 212

 

Gaetner, N., M. Smith (2001). “E-commerce in A Web-Based Environment: Auditing Relative Advantages in The Australian Health Sector”< Managerial Auditing Journal. 16/6, 347-365

 

Gowthorpe, C. and Flynn, G. (1997). “Reporting on The Web: The State of The Art”, Accountancy, Agustus: 68-9

 

Halim, Abdul. Auditing and Sistem Informasi (Isu-Isu Dampak Teknologi Informasi), Edisi Pertama. UPP AMP YKPN Yogyakarta, 2004.

 

Halim, Abdul. Auditing: Dasar-dasar Audit Laporan Keuangan, Edisi ke-2. UPP AMP YKPN Yogyakarta, 2001.

 

Jones, Michael John and Jason Zezchong Xiao.  “Internet Reporting: Current Trends dan Trends 2010.” Accounting Forum Vol 27 No 2 ( Juni 2003): hal136-144

 

Kalakota R, Winston AB. (1996). Electronic Commerce: A manager’s Guide Addision-Wesley :Reading MA.

 

Rezaee Z., Elam R., and Sharbatoghile (2001). “A Continuous Auditing: The Audit of The Future”. Managerial Auditing journal. 16/33, hal 150-158

 

________ and R. Elam (2002). “Real Time Accounting System”. Internal Auditor. April:63-67

 

________ and C. Hoffman (2001). “XBRL: Standardized Elecronic Financial Reporting”. Internal Auditor. Agustus: 46-51

 

Xiao, Zezhong and Michael John Jones. “Immediate Trends in Internet Reporting.” The European Accounting Review (2002): hal 250-253

 

Xiao, Z (1996) “Information Technology and Future Approaches to Financial Reporting”, Accounting Research, 99(1): 9-13

 

Wilkinson, J.W., Cerullo M.J., Raval, V. and Wong-On-Wing, B. Accounting Information Systems: Essential Concepts dan Applications, 4th ed., New York:  John Wiley dan Sons, Inc., Danvers. 2000.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: